Gus Ipul gunakan ijazah dan gelar palsu?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Gus Ipul gunakan ijazah dan gelar palsu?

Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) diduga menggunakan ijazah palsu guna mengikuti kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Polemik tersebut mengemuka setelah foto salinan ijazah Gus Ipul yang dikeluarkan Universitas Nasional tersebar luas di media sosial.

Keganjilan ijazah Gus Ipul terlihat dari tahun dikeluarkannya ijazah serta gelar sarjana yang diperoleh Calon Gubernur yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno tersebut.

Gus Ipul diketahui memulai pendidikan sarjananya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Nasional, Jakarta pada tahun 1985. Namun, dalam foto ijazah yang tersebar di media sosial tersebut Gus Ipul baru meraih gelar sarjananya pada tahun 2003. Artinya, Gus Ipul menempuh pendidikan sarjana selama 18 tahun.

Gelar sarjana yang diperolehnya adalah Sarjana Ilmu Politik (S.IP). Sementara selama ini Gus Ipul meletakkan gelar dokterandus (Drs) di depan namanya menjadi Drs. H Saifullah Yusuf

Seperti diketahui, dalam sejumlah literatur gelar doktorandus terakhir kali diberikan pada tahun 1993 bagi lulusan program S-1 dalam Ilmu Sosial, matematika dan ilmu pengetahuan alam, seni, ilmu pedagogi atau pendidikan. Sementara Untuk wanita dibuat pembedaan dengan pemberian gelar Doktoranda (Dra.).

Setelah tahun tersebut, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 036/U/1993 gelar akademik yang diberikan terdiri dari sarjana (bachelor),  magister (master), dan doktor (doctor).

Atas hal tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur dinilai tidak cermat saat melakukan verifikasi terhadap ijazah pasangan calon.

"Gus Ipul, seharusnya menggunakan gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP) sesuai dengan yang tertera di ijazahnya bukan Drs. Kami menduga Gus Ipul memalsukan ijazahnya untuk mendaftar sebagai Calon Gubernur," ungkap Ketua Masyarakat Transparansi Jawa Timur (Matra Jatim), Holili saat mendatangi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jum'at (22/6).

Menurut Holili, sebagai pemilih masyarakat Jatim berhak mengetahui rekam jejak calon. Termasuk diantaranya riwayat pendidikan, organisasi, jabatan yang pernah diemban, dan lain sebagainya. Hal tersebut, lanjut dia, menjadi dasar dalam menentukan pilihan.

"Melihat keganjilan tersebut, kami berharap Bawaslu segera menindaklanjuti dengan meneliti ulang keabsahan ijazah tersebut," tuturnya.

Integritas dipertanyakan

Sementara itu, sejumlah warga masyarakat mengaku kecewa dengan tersiarnya kabar soal dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Gus Ipul. Mayoritas mempertanyakan integritas Gus Ipul sebagai pejabat publik.

Sebelum menjabat sebagai Wakil Gubernur, Gus Ipul pernah menjadi Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal era pemerintahan SBY meski akhirnya di reshuffle.

"Jika memang tudingan tersebut betul dan terbukti tentunya amat disayangkan karena sedari awal sudah tidak jujur," ungkap warga Asemrowo, Surabaya, Mukhlis (45).

Dikatakan, sudah seharusnya KPU segera melakukan verifikasi kembali mengenai keabsahan ijazah Gus Ipul tersebut dan menginformasikan kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak bingung.

Senada, Fitriani (35) warga Bubutan, Surabaya mengatakan polemik ini menjadi bahan pertimbangan baginya dan juga keluarga dalam menentukan pilihan gubernur yang akan dicoblos pada 27 Juni mendatang.

Diketahui Pasangan Syaifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno telah resmi ditetapkan sebagai pasangan calon kepala daerah peserta Pemilihan Gubenur (Pilgub) Jawa Timur 2018.

Penetapan keduanya tertuang dalam surat pengumuman bernomor 100/PL. 02-2,SD/06/KPU/I/2018 yang ditandatangani Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim, Eko Sasmito.

Dalam Pilgub Jatim 2018, pasangan Gus Ipul-Mbak Puti, diusung koalisi PKB, PDI Perjuangan, PKS dan Partai Gerindra. Sedangkan, pasangan Khofifah-Emil diusung Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, PAN, Partai NasDem dan Partai Hanura.

Tol Solo-Ngawi diresmikan, Jokowi: pembuka jalur merak-banyuwangi
Sederet fakta Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih tersandung kasus korupsi
Mencari advocat berkualitas, puluhan perwira Polri ikut bersaing
Mengenal sindrom Peter Pan
Selain tunjangan kinerja, kesejahteraan TNI - Polri perlu diperhatikan
Bacaleg PKS banyak mundur, begini tanggapan Fahri Hamzah
Fokus jadi Mensos, Idrus Marham tak nyaleg
Keluarga sebagai sumber sakit mental dan emosional
Traveling sendirian?  Siapa takut!
Fahri Hamzah sebut poros ketiga berpotensi jadi pemenang Pilpres 2019
Alasan warga perbatasan pilih elpiji Malaysia
Gerindra yakin Prabowo berpeluang besar kalahkan Jokowi
Jokowi ingin cawapres yang mampu dongkrak elektabilitasnya
Izin khusus untuk Freeport akan lebih untungkan Indonesia daripada kontrak karya
Toleransi beragama jelang pemilu harus dikedepankan
Fetching news ...