News

Polemik kasus korupsi dan pencucian uang Bank Jatim cabang Wolter Mongonsidi

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Polemik kasus korupsi dan pencucian uang Bank Jatim cabang Wolter Mongonsidi

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Nirwan Nawawi mengatakan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta telah menetapkan lima tersangka dalam kasus korupsi dan pencucian uang atas Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Jatim cabang Wolter Mongonsidi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Nirwan mengatakan kasus yang telah diselediki oleh Kejati DKI Jakarta sejak tahun 2011 ini, menetapkan lima tersangka yakni Aryono Prasodo (Mantan Pimpinan cabang pembantu), Riyad Prabowo Eddy selaku Analisa kredit Bank Jatim, Kemudian tiga debitur Hasan, Riyanto Nurdin dan NG Saino. 

"Jadi terhadap lima tersangka itu juga sudah dilakukan pencekalan dan terhadap tiga nasabah masih masuk dalam daftar pencarian orang," kata Nirwan saat dihubungi wartawan Rimanews, Sabtu (11/08/2018).

Nirwan menjelaskan saat ini Kejati masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan barang bukti serta menghitung kerugian negara. Kerugian negara dari kasus Bank Jatim kata Nirwan tengah dilakukan oleh tim auditor dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi DKI Jakarta.

"Kita masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi tersangka dan barang bukti serta menghitung kerugian negara yang dilakukan oleh tim auditor dari BPKP provinsi DKI Jakarta," ujarnya.

Terkait dengan barang bukti yang dikumpulkan menurut Nirwan terdapat dokumen-dokumen fiktif dana KUR dan bukti pencairannya. 

"Sementar masih kita kumpulkan pasti barang-barang yang terkait dokumen terkait bukti-bukti pencairannya (dana KUR). Itu dokumen-dokumen fiktif," lanjutnya.

Dalam kasus korupsi dan pencucian uang atas KUR ini, Nirwan mengatakan lima tersangka telah melanggar Pasal 2 dan Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-undang no. 20 tahun 2001 UU Tipikor (Tidnakan Pidana Korupsi) dan Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo 5 ayat (1) Undang-undang no.8 tahun 2010 TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang).

Dia menambahkan lima orang tersangka tersebut belum melakukan persidangan karena semua barang bukti masih pada tahap penyelidikan oleh Kejati DKI. Namun kelima tersangka sudah mendapat pencegahan untuk ke luar negri.

"Status sudah jadi tersangka, namun belum melakukan sidang," tambahnya.

Kejati DKI telah memeriksa lebih dari 20 saksi yang diantaranya termasuk Kepala Cabang dan mantan Kepala Cabang Bank Jatim Cabang, debitur dan ahli dari kalangan akademisi dan Ditjen Keuangan. Kasus ini terbongkar setelah Bank Jatim diduga mencairkan kredit (pinjaman) kepada 82 debitur, dalam penyaluran kredit ditemukan adanya penggunaan fiktif atau pengguna yang sengaja dibuat.

"Antara tahun 2011 sampai 2012 Bank Jatim cabang pembantu Wolter Mongonsidi Jakarta menyalurkan kredit kepada 82 debitur dalam penyaluran kredit ini ditemukan adanya penggunaan dokumen fiktif," lanjutnya.

Nirwan menceritakan kasus tersebut telah mulai dicurigai sejak antara 2011 sampai 2012, Kejati DKI mengeluarkan surat perintah penyelidikan pada tanggal 22 Agustus 2017. Kemudian dari surat perintah itu, kasus lantas naik ke tahap penyelidikan tanggal 6 November 2017.

"Kasusnya sudah bergulir dari tahun 2011 sampai 2012, Nah pada 22 Agustus 2017 Kejati sudah mengelurakan surat perintah penyelidikan, Tahap penyelidikan tanggal 6 November 2017," pungkasnya.

Golkar: kami yang pertama dukung Jokowi
Fahri Hamzah ungkap kepentingan Amerika dalam konflik Israel-Palestina
Warga potong salib makam dan larang keluarga yang wafat berdoa di TPU
IHSG bakal menguat jelang keputusan The Fed
PDIP nantikan klarifikasi Wiranto soal pengrusakan bendera Demokrat
Kurang potennya Ma'ruf Amin dan ramalan Jokowi bakal kalah karena sang wakil
Wartawan tewas naik 14 persen di sepanjang 2018
Negara tak akan punah karena Prabowo kalah
KPU: Kotak suara kardus hemat 70 persen
Prabowo sentil elit koalisi belum nyumbang, PKS: Kami otomatis bantu
Kubu Prabowo nilai jargon wong cilik Jokowi hanya untuk komoditas politik
KPU harap anggaran pemilu dapat digunakan mulai Januari 2019
Demokrat nilai tuduhan Wiranto terkait oknum perusak salah dan terburu-buru
Farhat Abbas minta PSI dikeluarkan dari Tim Kampanye Nasional
PPP: Yang kaget kotak suara kardus mungkin tak hadir rapat
Fetching news ...